Women Lead
July 22, 2021

Bagaimana Pandemi Bikin Saya Belajar Mencintai Diri Sendiri

Terus-menerus dibandingkan dengan saudara perempuannya, memberinya masalah citra tubuh yang parah. Namun, pandemi memaksanya untuk mencintai bayangannya sendiri di cermin.

by Livia Kriwangko
Lifestyle
Share:

Ketidaktahuan seorang anak adalah salah satu sifat yang paling sering membuat iri orang dewasa dan dapat dibuktikan oleh kita. Sering kali kita tidak menyadari, benih yang ditanam pada anak-anak bakal tumbuh seiring dengan pertumbuhan mereka. Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Benih keyakinan diri tumbuh menjadi rasa percaya diri. Demikian juga benih yang buruk menghasilkan buah yang buruk.

Sebagai seorang anak, saya menabur benih ketidakamanan dan perbandingan. Benih-benih itu tumbuh menjadi penghinaan diri yang mengakar dan citra tubuh yang hancur.

Sejujurnya, saya tidak dapat mengingat saat ketika saya tidak merasa tidak nyaman dengan penampilan saya sendiri. Menjadi anak kedua dari tiga anak perempuan, saya dapat mengonfirmasi bahwa sindrom anak tengah adalah nyata. Saya berbeda dari saudari saya baik dalam hal kepribadian maupun penampilan fisik. Singkatnya, saya berbeda dari mereka secara kurang diinginkan dan dapat diterima secara sosial.

Baca juga: ‘Effortless Beauty’: Standar Ganda Kecantikan yang Mustahil Dicapai

Sebagai anak-anak, kedua saudari saya terlihat langsing dengan jumlah lemak bayi yang tepat, sementara saya memiliki banyak kelebihan. Selama tahun-tahun perkembangan itu, semua orang mulai dari keluarga, teman, hingga teman keluarga merasa perlu untuk menunjukkan bahwa saya terlihat berbeda, “Hiii yang ini gendut ya, enggak mirip sama kakak adiknya!” seakan saya perlu diingatkan terus-menerus.

Tentu, saya akan marah, dan ini, pada gilirannya, akan menunjukkan perbedaan lain antara saya dan saudari saya, mendorong mereka untuk berkomentar, “Ya ampun, gitu aja marah” atau “Jangan gampang nangis, dong”.

Itu rasanya menyakitkan.

Ketika pubertas datang, persepsi diri saya berubah dari buruk menjadi lebih buruk. Sementara saudari saya memiliki tubuh tinggi ramping dan kulit yang sempurna, saya memiliki pinggul yang besar dan menderita jerawat hormonal ditambah dengan kulit terlalu berminyak--persis apa yang dibutuhkan remaja yang sadar diri. Perbedaan semakin jelas seiring berjalannya waktu, dan saya merasa seperti telah dididik dan tumbuh di dalam lingkungan yang salah.

Tuhan, bagaimana Kamu bisa membuat saya terlihat sangat berbeda dari saudari saya ketika Kamu tahu bahwa saya akan sangat menderita karenanya?

Citra tubuh saya sangat buruk sampai-sampai selama tiga tahun di SMA, saya tidak dapat melihat diri saya di cermin sama sekali. Hanya melihat sekilas wajah saya di layar komputer atau jendela mobil membuat saya merasa ngeri pada bayangan saya sendiri. Saya akan membuat wajah lucu untuk mengalihkan perhatian saya karena yang bisa saya lihat hanyalah banyak perbedaan yang tidak bisa saya terima.

Pada tahun-tahun berikutnya, kulit saya menjadi bersih, dan saya tumbuh dengan tubuh saya sekarang. Saya belajar bagaimana mendandani lekuk tubuh dan melukis wajah saya. Sering kali orang akan melengkapi saya dengan penampilan saya. Namun, tidak ada yang mereka katakan yang bisa mengubah cara saya melihat diri saya sendiri. Mereka mengatakan kepada saya bahwa saya terlihat cantik, tetapi dalam pikiran saya, saudari saya cantik, dan saya tidak terlihat seperti mereka, oleh karena itu saya tidak bisa cantik.

Dalam berbagai cara, saya bersyukur atas pandemi karena memberi saya waktu dan ruang untuk memperbaiki hubungan saya dengan cermin.

Pandemi memisahkan saya dan saudari saya. Jadi, saya tidak melihat orang lain yang bisa saya bandingkan; saya hanya melihat diri saya sendiri. Saya menghabiskan 10 bulan di karantina hanya melihat bayangan saya sendiri di cermin.

Baca juga: Ajari Aku Mencintaimu dan Diriku Sendiri

Ya, 10 bulan dan terus bertambah. Jangan tanya, ini adalah proses yang rumit.

Intinya adalah dalam 10 bulan ini saya benar-benar melihat diri saya dengan baik. Perlahan tapi pasti, saya mulai melihat diri saya apa adanya, bukan hanya betapa berbedanya saya dengan saudara perempuan saya. Versi terdistorsi yang biasa saya lihat telah berkembang menjadi gambar yang jauh lebih jelas. Akhirnya awan mendung yang kerap membuat saya membandingkan diri saya dengan saudari saya mulai hilang. Kebutuhan untuk membuat wajah lucu di refleksi saya sendiri perlahan-lahan berkurang. Rasanya seperti bertemu dengan diri saya sendiri untuk pertama kalinya. Sebuah hubungan baru dengan refleksi saya berkembang, benar-benar momen untuk menghargai diri untuk diri saya sendiri.

Seluruh pengalaman itu sangat membebaskan. Saya tidak lagi terikat dan lumpuh oleh penghinaan diri saya sendiri. Saya belajar bahwa saya perlu mengubah persepsi diri saya sendiri sebelum saya mulai mempercayai apa yang orang lain katakan kepada saya. Cinta diri dan penerimaan diri datang dari dalam. Jadi, bahkan jika saya tidak mendengar afirmasi dari orang lain, saya akan baik-baik saja.

Ingat, pertumbuhan tidak pernah linier. Ada dan akan ada hari-hari ketika saya tidak dan tidak akan mencintai orang yang saya lihat di cermin, dan sebenarnya itu tidak apa-apa. Hal yang utama adalah bahwa saya sekarang tahu bagaimana rasanya melihat bayangan saya dengan mata berkabut, dan dunia akan terlihat berbeda ketika saya melihat bayangan saya dengan mata tidak berkabut. Dengan cara ini, saya akan selalu berusaha untuk menjaga visi saya sejelas mungkin. Saya berharap untuk mengambil pelajaran ini  ketika saya melangkah keluar dari karantina, untuk selalu mengingat pantulan bayangan diri saya sendiri di cermin dan cara saya melihatnya.

Baca juga: Stop Nilai Diri dan Perempuan Lain dari Penampilan Fisik

Bagi kamu yang masih berjuang untuk menerima diri sendiri, saya mendorongmu untuk mulai memperbaiki hubunganmu dengan cermin. Belajarlah untuk melihat refleksi dirimu sendiri untuk mengetahui siapa mereka dan siapa yang sebenarnya bukan mereka. Frekuensi adalah kuncinya. Semakin sering kamu melihat diri sendiri, semakin kamu mengenal dirimu, semakin jelas pandanganmu. Percayalah, prosesnya sepadan karena cinta diri akan membawa kamu sangat jauh. Jadi mengapa tidak meluangkan waktu untuk mengenal seseorang  yang bayangannya terpantul di cermin?

Artikel ini diterjemahkan oleh Jasmine Floretta V.D. dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Livia Kriwangko meraih gelar sarjana di bidang Psikologi. Hatinya adalah untuk mereka yang tidak terlihat secara sosial. Dia berharap suatu hari menjadi advokat penuh waktu untuk kesehatan mental, perempuan, dan pendidikan berkualitas untuk anak-anak.