Women Lead
May 03, 2021

Drama Korea ‘Navillera’ dan Mengejar Mimpi Saat Lanjut Usia

Drama Korea ‘Navillera’ mengisahkan perjuangan mewujudkan impian dan terbangunnya hubungan antara dua insan berbeda usia.

by Danny I. Yatim
Culture // Korean Wave
Review Drakor Navillera
Share:

Ketika awal kuliah psikologi, saya berkenalan dengan teori Erik Erikson mengenai delapan tahap perkembangan manusia. Pada awal setiap tahap, ada krisis yang harus kita lalui dulu agar bisa mudah menjalani tahap itu. Erikson lebih dikenal umum membahas remaja dengan konsep krisis identitas, namun psikolog Jerman Amerika itu juga membahas tahapan lansia yang ditandai dengan krisis antara integrity versus despair.

“Duuuh, gimana ya rasanya jadi tua, terus hidup kita ini penuh penyesalan, penuh despair,” bisik seorang teman yang duduk di sebelahku.

Memang sulit bagi kami, yang ketika itu masih muda, membayangkan masa tua. Sungguh bukan hal menyenangkan bila hidup dipenuhi rasa nestapa. Tiba-tiba kami sangat berempati kepada para lansia sambil berharap jangan sampai kita merasakan keputusasaan nantinya.

Kini, 44 tahun kemudian, saya dengan bangga menyatakan sudah sampai pada tahap itu, dan bersyukur sekali tidak juga merasakan nestapa. Ketika mengobrol dengan teman-teman seusia, umumnya mereka juga tidak merasakan penyesalan mendalam. Kalaupun ada, maka yang dirasakan bukanlah penyesalan akan yang sudah terjadi, melainkan penyesalan atas apa yang tidak terjadi. Lalu saya bertanya dapatkah yang tidak terjadi itu diwujudkan juga?

Baca juga: Merengkuh Usia Tua dengan Gembira

Drama Korea Navillera dan Mengejar Mimpi di Usia Tua

Awal Maret 2021 saya menonton drama Korea di Netflix yang berjudul Navillera (arti harafiahnya seperti kupu-kupu). Ini kisah seorang laki-laki lansia yang mempunyai impian masa kecil yang tidak kesampaian: ingin menari balet. Lalu dia mewujudkan impian itu di usia 70 tahun dengan berguru pada seorang balerino muda.

Drama 12 episode ini digambarkan dengan sangat indah. Setiap kali menonton pasti mata saya membasah, bukan karena ceritanya cengeng atau mendayu-dayu, tetapi karena ada momentum yang menggugah hati melihat liku-liku sang lansia belajar balet. Dia bukan saja ingin menari, melainkan juga bermimpi mementaskan Swan Lake. Selagi masih ada kesempatan, katanya.

Drama ini menepis stereotip bahwa bila sudah tua, kita tidak bisa belajar hal baru. Navillera mungkin bertema sama dengan drama Start-Up dan Run On, tentang menggapai apa yang kita impikan. Bedanya, Navillera menampilkan impian seorang lansia.

Navillera juga menepis stereotip gender yang terkait balet. Sang kakek mendapat tentangan dari orang tuanya ketika kecil, dan di masa lansia mendapat tentangan dari dua anaknya.  Meskipun tidak eksplisit disebutkan, kita bisa mereka-reka kenapa keinginannya tidak didukung keluarga. Ada anggapan balet hanyalah untuk perempuan dan laki-laki feminin.  Penari laki biasanya digambarkan gemulai, atau dengan istilah kurang enak, laki-laki ngondek. Penggambaran dalam Navillera sama sekali tidak demikian. Kalaupun ada, juga tidak dipermasalahkan.

Melihat gigihnya sang kakek belajar menari, saya teringat terus quote favorit saya: You don’t stop dancing because you grow old. You grow old because you stop dancing. Quote ini sering saya sampaikan ketika memberikan kuliah, seminar, atau webinar mengenai lansia, khususnya tentang konsep active aging.

Baca juga: Drakor ‘Start-Up’ dan Pelajaran Soal Pola Asuh Helikopter

Cara Menjadi Sehat Sebagai Lansia

Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita bertambah usia?  Ada perubahan sistem tubuh, terutama dari aspek hormonal, ketahanan, dan metabolisme. Akan muncul juga radikal bebas, yaitu jenis molekul penyebab tidak berfungsinya sel. Beberapa bagian tubuh mulai usang dan kemungkinan terjadi keropos tulang, berkurangnya kemampuan indra penglihatan dan pendengaran, rambut memutih, dan kulit tidak lagi kencang.

Namun, benarkah anggapan bahwa semua lansia lemah tak berdaya? Mereka cenderung menjadi depresi dan merasa kesepian? Semakin tua mereka jadi pelupa karena pikun? Anggapan inilah yang perlu kita hilangkan. Betul terjadi penurunan fungsi seperti dikatakan di atas, namun tidak berarti semua lansia itu tak berdaya.

Tidak semua lansia menjadi pikun, bahkan persentase kepikunan itu relatif kecil, yakni 10-20 persen saja. Tidak benar lansia itu tidak produktif, kemampuan belajarnya berkurang, dan cara pandangnya kaku dan kuno. Justru banyak lansia yang hidup aktif, apalagi angka harapan hidup di Indonesia semakin tinggi sekarang.

Konsep menua dengan positif (positive aging) adalah konsep bahwa lansia dapat secara aktif menghindari penyakit atau disabilitas, selama dia dengan sadar tetap menjalankan fungsi fisik, mental dan sosial dengan baik. Hidup menua bukan berarti harus mengurung diri di rumah, tidak lagi bekerja dan bergaul.

Caranya? Tetaplah aktif secara fisik, tetap aktif secara kognitif (banyak membaca, menghafalkan sesuatu, mengisi teka teki, dan sebagainya), tetap aktif secara sosial, cukup istirahat dan tidur, serta mengatur pola makan bergizi. Yang penting adalah, sekalipun kita sadar tubuh tak lagi sehebat saat masa muda, kita bergaya hidup penuh semangat dan kegembiraan.

Cara Mencegah Pikun

Majalah National Geographic  antara 2000-2007 pernah menugaskan seorang penulis, Dan Buettner, berkeliling ke seluruh pelosok dunia, mencari komunitas yang banyak warganya berusia di atas 100 tahun (centenarian). Buettner menemukan tiga komunitas dengan centenarian terbanyak, yaitu masyarakat Okinawa di Jepang, komunitas penganut Advent Hari Ketujuh di California, dan masyarakat Sardinia di Italia. Pada ketiga kelompok tersebut para lansia mempunyai pola makan sehat, aktif secara fisik setiap hari, tetap bergaul dan menjalani hidup dengan gembira.

Kadang saya dengar candaan, “Ingat, umur!” pada kaum muda berusia 30an, seakan kita harus mulai menahan diri tidak melakukan aktivitas seperti berjoget-joget misalnya. Padahal, kata siapa semakin tua kita harus diam dan pasif? Bahkan lansia pun boleh saja berdansa dan berpesta. Atau bersenang-senang di alam terbuka. Atau berpakaian gaya kekinian. Atau bermain musik hingar bingar. Selama itu hal yang disukainya, sah-sah saja. 

Kembali ke drama Korea Navillera, ada banyak quote menarik yang bisa diambil hikmahnya. Anda merasa terlalu tua mengejar semua impian?  When you want something with all your heart, you shine brighter than anyone else. Anda takut memulai sesuatu? You’re never going to be perfectly ready. Start now and get better over time. Dive right in, even if you don’t feel ready.

Navillera sangat direkomendasikan untuk ditonton. Mungkin ini drama Korea pertama pada 2021 yang tidak ada soal cinta segitiga dan intrik-intrik kecemburuan, dan lebih berkisah tentang perjuangan mewujudkan impian. Drama ini juga bercerita tentang indahnya hubungan guru-murid, dinamika keluarga, pulihnya pertemanan yang pernah rusak, dan terbangunnya hubungan antara dua insan berbeda usia. Yang menarik lagi, Park Im Hwan, sang aktor, dalam kehidupan nyata sudah berusia 75 tahun!

Kita perlu menjadi manusia berintegritas, yang memadukan seluruh pengalaman hidup yang baik maupun yang buruk, dan tetap mengejar impian kita, meski sudah lanjut usia.

Seperti sang kakek, bila kita bisa menjalani hidup penuh kegembiraan, namun juga menerima dengan elegan bahwa tubuh sudah menurun fungsinya, sehingga kenestapaan yang disebut Erikson takkan terjadi. Kita perlu menjadi manusia berintegritas, yang memadukan seluruh pengalaman hidup yang baik maupun yang buruk, dan tetap mengejar impian kita, apa pun itu.

Danny I. Yatim adalah seorang psikolog, penulis, pengamat masalah sosial-budaya, dan penggemar budaya pop.