Women Lead Pendidikan Seks
January 10, 2022

5 Film Asia yang Lawan Stereotip Gender Perempuan

Tak sedikit film yang masih menampilkan stereotip gender terhadap perempuan Asia. Namun, kelima film berikut pilih memutus latah itu.

by Aurelia Gracia, Reporter
Culture
Review Film Yuni
Share:

Menyaksikan penampilan perempuan Asia di sejumlah film Hollywood menyadarkan saya pada satu hal: Representasinya masih kental dengan stereotip gender. Entah sebagai pekerja seks, gold diggers, bersikap lemah dan patuh, pendiam, misterius, hingga suka menipu. Intinya sangat minim karakter yang tak berdaya.

Padahal, sebagai medium, film merupakan salah satu alat yang dapat digunakan sebagai sarana edukasi dan mampu memengaruhi kehidupan penontonnya. Dalam hal ini, termasuk mematahkan stereotip perempuan dan menampilkan keberagaman.

Saya bersyukur, kelima film Asia berikut justru mendobrak stereotip gender yang dialami perempuan, sehingga mengubah persepsi bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua yang tak setara dengan lelaki. Apa saja? Simak, yuk.

1. Yuni (2021)

Disutradarai Kamila Andini, film ini menyorot ketidaksetaraan gender dalam kehidupan di Serang, Banten. Di tengah maraknya pernikahan dini dan kehamilan di luar nikah yang terjadi di kalangan teman-temannya, Yuni (Arawinda Kirana) memprioritaskan pendidikannya dan menolak tiga lamaran laki-laki. Hal ini membuat para tetangga berpendapat keputusannya akan membawa malapetaka, karena menurut mereka pernikahan adalah upaya menghindari zina, dan perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi karena tugasnya melayani suami.

Di tengah kentalnya budaya patriarki, kedua orang tua Yuni memberikan anaknya kebebasan dan berharap anaknya tetap bersekolah. Begitu pula dengan Ibu Lies (Marissa Anita), yang mendorong muridnya meraih cita-cita.

Sumber: Fourcoloursfilm

Selain itu, Yuni juga menampilkan akibat mengikuti stereotip pernikahan dini yang dialami Suci (Asmara Abigail). Menikah di usia remaja membuatnya tak bisa hamil dan merusak rumah tangganya. Belajar dari pengalaman tersebut, ia memilih hidup bebas tanpa harus menjadi pendamping laki-laki sekaligus memberdayakan diri, dengan mengasah bakatnya dalam bidang tata rias hingga membuka sebuah salon.

2. Dangal (2016)

Film Asia yang terinspirasi dari kisah Mahavir Singh Phogat, seorang petinju amatir asal India, menceritakan tentang Mahavir (Aamir Khan) melatih kedua putrinya, Geeta (Fatima Shaikh) dan Babita (Sanya Malhotra) agar menjadi petinju kelas dunia. Tujuannya adalah, melanjutkan mimpinya yang dilarang sang ayah, karena menilai kehidupan sebagai atlet tidak akan membuat finansialnya stabil.

Di tengah stereotip gender yang mengharuskan perempuan menikah, melayani laki-laki, menjadi ibu, dan melakukan pekerjaan rumah tangga, cita-cita Mahavir yang “dipaksakan” terhadap anak-anaknya justru menjadi pemberontakan, terhadap stereotip gender yang merupakan konstruksi sosial.

Jika dilihat dari satu sisi, idealis Mahavir tampaknya meninggalkan Geeta dan Babita tanpa pilihan, bahkan sampai memangkas rambut sehingga berpenampilan seperti laki-laki. Namun, mereka adalah contoh, perempuan berhak dan bisa melakukan peran apa pun, terlepas dari tuntutan masyarakat.

Di saat bersamaan, sang ayah juga mengajarkan supaya anak-anaknya menjadi pemberani, tidak mengacuhkan perkataan orang lain, dan menanamkan independensi.

3. Mulan (2020)

Karena lekat sebagai permasalahan yang ditangani laki-laki, perang dianggap sebagai perkara yang dapat diselesaikan laki-laki. Hal ini menyebabkan Mulan (Liu Yifei) harus menyamar sebagai laki-laki agar dapat bertarung, lantaran tidak “diperbolehkan” masyarakat untuk terlibat melawan musuh dan menjadi kekhawatiran sang ayah.

Meskipun demikian, ia tetap tampil sebagai prajurit yang berani dan menggantikan peran ayahnya. Keinginannya itu menunjukkan, perempuan juga mampu berperang untuk melindungi keluarganya. Mulan juga tidak menjalin hubungan romantis dengan laki-laki

Pada versi live action ini, walaupun bertemu dengan Cheng Honghui (Yoson An) dan saling menunjukkan ketertarikan, karakter Mulan tidak difokuskan menjalin hubungan romantis dengan siapa pun.

Sumber: IMBD

4. Tilik (2018)

Film Asia ini menceritakan rombongan ibu-ibu dari desa yang naik truk untuk menjenguk Bu Lurah di kota, film berdurasi 32 menit ini diisi percakapan karakter yang merepresentasikan realitas, tentang prasangka dalam hidup bertetangga.

Apabila dilihat dari satu aspek saja, tampaknya Tilik mengglorifikasi stereotip perempuan yang suka bergosip lewat karakter Bu Tedjo, dan merusak rumah tangga orang lain pada sosok Dian, berdasarkan gunjingan ibu-ibu. Namun, sebagai penonton kita perlu mengingat karakter Bu Lurah, meskipun hanya ditampilkan lewat penggambaran tokoh lain.

Lewat karakter tersebut, film garapan sutradara Wahyu Agung Prasetyo ini sekaligus melawan stereotip gender dengan memosisikan perempuan sebagai pemimpin, mengingat peran perempuan yang melekat dengan pekerjaan domestik. Pun bukan sekadar pemimpin, melainkan sosok yang disenangi warganya, terlihat dari rombongan ibu-ibu desa yang berupaya menjenguk.

Selain itu, Tilik menunjukkan perempuan memiliki pilihan dalam hidupnya, bukan sebagai pelengkap figur laki-laki.

Misalnya, latar belakang Bu Lurah yang menceraikan suaminya, memutuskan menjadi ibu tunggal dan tinggal bersama anaknya. Atau Dian yang menjalin hubungan asmara dengan mantan suami Bu Lurah, merepresentasikan perempuan berkarier yang memilih berelasi dengan laki-laki berusia lebih tua, bukan perusak rumah tangga.

Terlepas dari penggambaran stereotip yang dihadirkan, Tilik justru memperlihatkan keragaman perempuan di masyarakat, menunjukkan cairnya karakter mereka sesuai kepribadian, dan tidak melulu tunduk pada budaya patriarki.

Sumber: YouTube/Ravacana Films
 

5. Crazy Rich Asians (2018)

Film Asia yang diadaptasi dari novel berjudul yang sama oleh penulis Kevin Kwan, mendobrak stereotip perempuan Asia yang pemalu dan naif, karena lebih berani dan tegas. Melalui karakter Rachel Chu (Constance Wu), perempuan Asia digambarkan mampu menyampaikan perasaannya dan apa yang diinginkan, dibandingkan hanya memendam.

Kemudian, ia bukan seorang penurut seperti yang terbentuk pada citra perempuan Asia. Sikap ini ditunjukkan pada sebuah adegan, ketika ibu dari kekasih Chu mempermasalahkan latar belakangnya dan mengatakan kehadirannya tidak akan diterima. Chu justru merespons dengan mengajaknya bermain mahjong, sebelum kembali ke AS agar kekasihnya tidak perlu memilih antara keluarga dan hubungan mereka.

Sumber: IMBD

Selain karakter Chu yang menonjol, Astrid Leong (Gemma Chan), seorang perempuan independen dan sosialita, memilih meninggalkan suaminya yang berselingkuh, daripada bertahan dalam hubungan tersebut. Sayangnya, Crazy Rich Asians masih mengkotakkan kehidupan warga India di Singapura yang dikategorikan sebagai asisten atau pelayan.


Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.