Women Lead Pendidikan Seks
December 21, 2021

Kasus Novia dan Kematiannya yang Berbicara

Kematian Novia, korban kekerasan seksual pacar, menjadi tamparan bagi masyarakat yang masih sering memberi stigma buruk pada korban.

by Seli Muna Ardiani
Safe Space
Share:

Ingatanku dengan cepat terlempar pada sebuah esai abadi “Can the Subualtern Speak?”. Gayatri menuliskannya berpuluh tahun lalu, aku mempelajarinya, namun dentumannya begitu nyata setelah mendengar berita tentang almarhumah Novia. Betapa pilu dan sesak hatiku setelah mendengar berita kematiannya. 

Novia Widyasari Rahayu adalah perempuan hebat. Hanya dengan membaca surat dan tulisannya, kita akan tahu bahwa ia memiliki mimpi mulia. Ia cerdas karena turut membayangkan suatu tata kehidupan yang adil dan setara. Tidak seorang pun nyana, bahwa semua cita-citanya itu harus ia tutup dengan lonceng nyaring: Kematian.

Sore hari, (2/12). Tubuh Novia ditemukan tergeletak di samping makam ayahnya. Ia bunuh diri. Kematian ia pilih sebab laki-laki yang menjadi kekasihnya tidak bertanggung jawab. Ia diperkosa, dipaksa menelan pil aborsi, ditipu, serta dikhianati. 

Sebagaimana dalam masyarakat patriarki umumnya, Novia menjadi seorang korban kekerasan seksual yang menanggung berbagai stigma. Ia depresi, pengakuannya ia tuliskan dalam catatan rapi. Berbagai pertanyaan untuk mendapat solusi telah ia lempar. Namun, lagi-lagi, kelambanan dan ketidakacuhan lah yang ia terima sebagai jawaban. 

Tentu tulisan ini tidak akan mengulang persis kronologi yang beredar di media. Uraian ini adalah sebuah opini mengenai kematian dan perempuan sebagai korban kejahatan seksual. Cerita Novia ini menjadi bukti, bahwa perempuan sebagai subaltern dalam masyarakat patriarki tidak memiliki pilihan. Ia menjadi objek, didefinisikan, dan tidak memiliki bahasa. Sehingga, cerita ini tampak persis pada perempuan Sati  di India yang diamati oleh Gayatri Chakravorty Spivak.

Jika Sati adalah satu-satunya cara berbicara-berbahasa perempuan di India, maka pilihan bunuh diri Novia memiliki artikulasi serupa. Perempuan dalam tradisi Sati memilih kematian (dengan cara membakar tubuhnya) setelah kematian suaminya. Menjadi janda bermakna kehilangan eksistensinya; jika memilih bertahan, ia akan distigma buruk. Tidak ada tafsir dan pilihan hidup lain. Maka, kematian dipilih sebagai satu-satunya cara artikulasi subjek perempuan. Kebisuan itulah yang akhirnya berbicara.

Baca juga: Jangan Biarkan Korban Pelecehan Seksual Diam

“Something Cannot Say”

Sudah niscaya, subaltern selalu terhubung dengan sesuatu yang tidak dapat terungkapkan, “something cannot say”. Begitulah duduk perkara awal yang ditulis oleh Gayatri. Dalam esai yang dipublikasikan pada tahun 1985 itu, Gayatri memang tidak spesifik menyebutkan bahwa “sesuatu yang tidak dapat terungkapkan”adalah situasi perempuan sebagai korban kekerasan seksual. Namun, terdapat situasi yang ditangkap oleh Gayatri yang memiliki kesepadanan. Kesepadanan itu adalah posisi perempuan di tengah konstruksi ideologi male-centrism

Ia menuliskan: If, in the context of colonial production, the subaltern has no history and cannot speak, the subaltern as female is even more deeply in shadow. 

Perempuan subaltern mendapati diri yang berlapis-lapis. Dalam konstruksi ideologi male-centrism, perempuan tidak memiliki sejarah, bahasa, bahkan artikulasinya diciptakan. Situasi tak terkatakan ini atau situasi tak terketahui (unacknowledged) bagi Gayatri adalah suatu langkah penting. 

Gayatri menyepakati ide Pierre Macherey bahwa suatu formula ideologi paling ampuh adalah ‘apa yang tidak dikatakan’. Salah satu contoh bagaimana prinsip itu bekerja adalah apa yang dilakukan perempuan (janda) Hindu pada saat itu. Saat suami perempuan Hindu meninggal, ia menaiki onggokan kayu berapi untuk mengorbankan dirinya. Perempuan menginginkan kematian alih-alih melarikan diri dari status buruk janda. 

Baca juga: Komnas Perempuan: Kasus Kekerasan NWR adalah Femisida

Sama seperti Sati, kekerasan seksual pada mulanya berupa pengalaman tak diartikulasikan. Pengalaman perempuan diceritakan begitu acak sebelum tahun 1970. Dalam buku Thinking about Sexual Harassment, Margaret A. Crouch menyebutkan bahwa terminologi “sexual harassment” atau apa yang kita pahami saat ini sebagai pelecehan seksual baru dipergunakan sejak dekade 1970-an. Sebelum terdefinisikan, kekerasan seksual hanya ada dalam pengalaman bisu, protes pekerja perempuan, cerita pilu di surat kabar, tanpa dipahami situasi yang merendahkan kehormatannya sebagai manusia adalah suatu tindak kejahatan.

Bahkan setelah terminologi itu bekerja dengan baik saat ini, kita masih sering mendengar kabar menyedihkan dari para korban dan penyintas kekerasan seksual. Betapa kekerasan seksual masih sulit diartikulasikan, betapa lembaga aduan dan pemerintah masih lamban.

Cerita Novia adalah Lonceng Abadi

Hanya ada sesal dan sesak yang terasa karena pengalaman dan aduan Novia baru kita dengar setelah pesan kematiannya datang. Terlebih, saat dunia tengah ramai dengan berbagai kampanye, #16HAKTP, #GerakBersama, #SahkanRUUPKS, dan lain sebagainya. Tepat saat dunia memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Novia memilih kematian. Ia menjadi korban bertubi-tubi oleh kekasihnya, keluarga kekasihnya, bahkan keluarganya sendiri. 

Mungkin setiap korban kekerasan seksual akan bertanya, bagaimana cara menceritakan pengalamannya ini kepada dunia? Bagaimana cara mengobati martabat diri? Namun, dunia masih tidak mau disibukkan dengan urusan yang dianggap remeh ini. Masyarakat dan keluarga bukannya mengobati, mereka malah menstigma buruk korban sehingga bebannya bertambah berat. Itulah dunia yang kita hadapi saat ini.

Cerita Novia adalah lonceng abadi. Kematiannya seharusnya menjadi tamparan untuk semua orang. Kematiannya adalah kepedihan yang tidak lagi dapat dibahasakan-dikatakan. Lonceng ini menjadi pukulan keras untuk patriarki yang masih bercokol dalam pengaturan hukum dan pemerintah di Indonesia.

Engkau telah damai dipeluk ibu Bumi, Novia. 

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Seli Muna Ardiani adalah seorang mahasiswi Magister Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia. Aktif dalam lembaga Institute for Javanese Islam Research (IJIR) dan Forum Perempuan Filsafat (FPF).