Women Lead
May 03, 2021

Masalah Jantung pada Perempuan Sering Luput dari Perhatian

Selama bertahun-tahun, pentingnya kesehatan jantung perempuan tidak muncul ke permukaan meski banyak perempuan di mancanegara rentan mengalami ini.

by Patricia Davidson
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Setiap tahun, serangan jantung membunuh lebih dari tiga juta perempuan di dunia, sementara banyak perempuan meninggal akibat penyakit lain terkait jantung. Di Amerika Serikat misalnya, sebanyak 290 ribu perempuan meninggal karena sakit jantung pada 2013 silam, membuat penyakit ini berkontribusi terhadap satu dari empat kematian perempuan.

Sementara itu di Australia, sebuah laporan menemukan lebih dari 31 ribu perempuan meninggal karena penyakit jantung setiap tahun. Angka ini jauh lebih banyak daripada 12 ribu perempuan yang meninggal akibat kanker jenis yang paling lazim, seperti kanker payudara.

Bagaimana dengan Indonesia? Data Kementerian Kesehatan tahun 2013 memperkirakan lebih banyak perempuan didiagnosis dokter memiliki masalah jantung ketimbang laki-laki. Masalah jantung adalah penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke. Estimasinya ada 1,22 juta perempuan dibanding 1,07 juta laki-laki.

Masalah Kesehatan Jantung Perempuan Luput dari Perhatian

Meski lebih banyak laki-laki daripada perempuan yang masuk rumah sakit di Australia tiap tahunnya karena penyakit jantung, jumlah yang meninggal antara kedua jenis kelamin sama saja. Ini karena penyakit jantung kurang dikenali di kalangan perempuan ketimbang laki-laki akibat dari gejalanya yang tidak lazim. Selain itu, ada pula fakta bahwa lebih kecil kemungkinan bagi perempuan untuk segera mencari bantuan medis.

Suatu studi di Australia juga menemukan bahwa perempuan dari kalangan ekonomi bawah memiliki kemungkinan 25 persen lebih besar untuk mendapatkan serangan jantung dibanding laki-laki dari latar belakang sosial ekonomi yang sama.

Baca juga: Jenis Kelamin dan Gender Menentukan Kondisi Kesehatan, Dengan Cara yang Berbeda

Selama bertahun-tahun, pentingnya kesehatan jantung perempuan tidak muncul ke permukaan. Hal ini baru mulai muncul di dasawarsa terakhir. Pada tahun 1997, hanya 30 persen dari perempuan Amerika yang disurvei yang sadar bahwa penyakit kardiovaskular (termasuk penyakit jantung dan stroke) adalah penyebab utama kematian perempuan. Meski ada berbagai kampanye media mengenai ini, angka tersebut naik hanya ke 50 persen di tahun 2009.

Gejalanya Berbeda

Baik jenis kelamin (seks) dan gender harus dipertimbangkan ketika mendiskusikan penyakit jantung pada perempuan. Meski dua istilah ini kerap dipakai bergantian, ternyata ada perbedaan penting antara keduanya. Jenis kelamin merujuk pada sifat-sifat organ tubuh, sedangkan gender menentukan peran, perilaku, dan ekspektasi yang ditentukan secara sosial.

Baru sekarang inilah kita mulai memahami perbedaan berdasar jenis kelamin dan gender pada perempuan dengan penyakit kardiovaskular, karena untuk bertahun-tahun lamanya perempuan tidak diikutkan dalam percobaan klinis. Faktor yang meningkatkan risiko penyakit jantung, juga cara-cara penyakit tersebut termanifestasi, bisa berbeda antara perempuan dan laki-laki.

Faktor risiko yang umum di kedua jenis kelamin antara lain kolesterol tinggi, merokok, obesitas, ketiadaan aktivitas fisik. Tapi diabetes akibat kehamilan, melahirkan prematur, darah tinggi di masa kehamilan, dan efek dari perawatan kanker payudara adalah faktor khas yang terjadi pada perempuan.

Memiliki masalah autoimun juga bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Dan karena lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang punya masalah autoimun, maka faktor ini lebih relevan bagi perempuan.

Sama halnya dengan penyakit mental seperti depresi dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang lebih lazim ditemukan pada perempuan. Para peneliti sekarang ini semakin tertarik pada kaitan antara faktor psikologis dan penyakit jantung, terutama pada perempuan.

Baru sekarang inilah kita mulai memahami perbedaan berdasar jenis kelamin dan gender pada perempuan dengan penyakit kardiovaskular, karena untuk bertahun-tahun lamanya perempuan tidak diikutkan dalam percobaan klinis.

Semakin cepat serangan jantung ditangani setelah terjadi, semakin kecil pula kemungkinan otot jantung tergerus serta risiko kematian dan cacatnya seseorang. Baik bagi laki-laki maupun perempuan, gejala penyakit jantung yang paling umum adalah sakit dada. Tapi perempuan bisa mengalami gejala yang tidak biasa seperti napas pendek-pendek, lemas, kelelahan, dan mual. Perempuan juga bisa saja merasakan gejala yang berkaitan dengan dada tapi di tempat yang berbeda dengan laki-laki seperti di leher, rahang, dan punggung.

Gejala-gejala yang tidak biasa di kalangan perempuan terkadang mengarah pada salah diagnosis serangan jantung. Alasan dari gejala yang berbeda adalah penyakit jantung di kalangan perempuan memiliki pola yang tidak terlalu menghalangi arteri koroner (pembuluh yang menyediakan darah ke jantung).

Baca juga: Hidup dengan Gangguan Reproduksi Perempuan dan Tuduhan Bukan ‘Perempuan Utuh

Lebih Sering Didiagnosis Saat Usia Lebih Tua

Gagal jantung terjadi ketika jantung tidak memompa darah yang cukup untuk tubuh dan biasanya muncul dalam bentuk kelelahan dan sulit bernapas. Gagal jantung di perempuan biasanya muncul pada umur yang lebih tua.

Perempuan juga dua kali lipat lebih mungkin daripada laki-laki untuk mengalami tipe gagal jantung yang dikenal sebagai “heart failure with preserved ejection fraction” atau HFpEF. Kondisi ini dikaitkan dengan tingginya angka kematian dan kualitas hidup yang berkurang. Tekanan darah tinggi adalah faktor risiko yang dominan: 80-90 persen pasien dengan HFpEF memiliki tekanan darah tinggi. Sampai hari ini tidak ada penanganan yang pasti untuk HFpEF, meski uji klinis terus berlangsung.

Perempuan secara umum 10 tahun lebih tua ketika mengalami kejadian jantung pertama mereka. Maka besar kemungkinan mereka sudah punya kondisi lain, seperti arthritis dan diabetes, yang biasanya membuat mereka mendapatkan hasil akhir yang lebih buruk.

Perempuan berusia tua juga banyak yang hidup sendirian, karena lebih banyak perempuan ditinggal mati pasangan ketimbang laki-laki. Mereka juga kemungkinan hidup dengan sumber keuangan yang berkurang sementara kebutuhan akan dukungan di kehidupan sehari-hari lebih tinggi. Akibatnya mungkin saja mereka tidak bisa pergi menemui dokter atau mendapatkan resep obat.

Situasi-situasi yang mengelilingi perempuan saat mereka didiagnosis dengan masalah kardiovaskular membatasi mereka untuk olahraga yang cukup. Padahal, olahraga itu penting untuk mengoptimalkan fungsi jantung dan mendorong fungsi jasmani untuk penuaan yang sehat. Perempuan usia lanjut perlu diberi mekanisme terstruktur yang mendorong mereka aktif secara fisik.

Program rawat jalan seperti rehabilitasi jantung, yang melibatkan berbagai disiplin ilmu termasuk perawat, dokter, pakar diet, spesialis fisiologi olahraga, dan terapis okupasi, mengurangi kematian dini dan dipromosikan dalam panduan praktik klinis di seluruh dunia. Program ini menangani faktor risiko dan mengajari orang bagaimana mengelola penyakit mereka.

Awalnya program ini dianjurkan terutama bagi pasien serangan jantung atau yang baru saja mengalami bedah bypass jantung, tetapi program ini semakin banyak dianjurkan bagi mereka yang mengalami gagal jantung. Sayangnya, informasi yang tersedia menunjukkan bahwa di AS laki-laki sepertiga lebih mungkin mendaftarkan diri ke program tersebut dibandingkan perempuan.

Strategi yang berfokus pada gender harus dikembangkan untuk mengurangi angka kematian akibat penyakit jantung di kalangan perempuan.

Alasannya bisa beragam. Pola rujukan dan tenaga kesehatan mempengaruhi partisipasi dalam program semacam ini. Tetapi kami juga mendapati bahkan ketika perempuan dirujuk ke program, mereka sering tidak datang. Alasannya karena keterbatasan transportasi, kurangnya kemampuan berolahraga serta adanya tanggung jawab mengurus keluarga.

Ini adalah contoh lain mengapa strategi yang berfokus pada gender harus dikembangkan untuk mengurangi angka kematian akibat penyakit jantung di kalangan perempuan.

Memperkecil Risiko Perempuan Alami Penyakit Jantung

Memperbaiki kisah akhir dari kasus jantung pada perempuan tidak hanya membutuhkan perubahan pengetahuan, sikap, dan keyakinan di kalangan tenaga kesehatan, tetapi yang lebih penting adalah di antara perempuan sendiri.

Langkah pertama bagi perempuan untuk memperkecil risiko adalah mendorong mereka mengedepankan kesehatan mereka sendiri dengan meningkatkan pengetahuan tentang faktor risiko dan gejala yang khas perempuan. Ada juga faktor gaya hidup yang penting dipertimbangkan, seperti:

  • Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai perlu tidaknya pemeriksaan kardiovaskular berdasarkan sejarah keluarga dan faktor risiko
  • Menghindari merokok dan mencari bantuan jika Anda perokok
  • Membuat rencana olahraga dan penanganan stres serta depresi
  • Berdiet sehat yang rendah lemak jenuh dan tinggi serat serta hindari makanan olahan pabrik (processed food)

 

Kita telah mengalami kemajuan dalam hal mengakui perbedaan gender dan jenis kelamin terkait penyakit jantung, tetapi masih banyak pertanyaan tak terjawab, khususnya tentang perempuan dari kelompok minoritas. Kuota wajib untuk memasukkan perempuan dalam uji klinis lumayan membantu, tetapi tetap saja perempuan tak terwakili dengan baik dalam uji klinis dan kita juga kekurangan riset soal kebutuhan spesifik perempuan.

Perempuan memang hidup lebih lama, tapi kerap dengan kondisi cacat, sehingga berakibat buruk pada masyarakat. Maka jadi menyenangkan melihat terbitnya panduan praktik klinis baik untuk pencegahan dasar penyakit kardiovaskular maupun untuk serangan jantung yang khusus untuk perempuan.

Selain mengawasi faktor biologis seperti tekanan darah, berat badan, gula darah, dan kolesterol, perempuan juga perlu menangani faktor psikologis dan sosial, seperti stres dan depresi. Kita perlu mengembangkan program perawatan kesehatan menggunakan pendekatan berdasar gender untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyakit jantung sebagai isu kesehatan perempuan, yang akan memperbaiki hasil akhirnya pada perempuan.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Patricia Davidson adalah profesor dan dekan School of Nursing, Johns Hopkins University.