Women Lead
May 01, 2021

Saatnya Menurunkan Volume ‘Kebisingan Suci’

Indonesia memiliki aturan soal volume azan dari masjid, tetapi sebagian besar pengurus masjid mengabaikannya sehingga kemudian menimbulkan polusi suara.

by Iman Putra Fattah
Issues
Kebisingan volume masjid
Share:

Sebagai negara dengan persentase populasi muslim tertinggi di dunia, Indonesia tidak asing lagi dengan panggilan umat Islam untuk salat lima kali sehari, alias azan. Di Indonesia dan negara mayoritas muslim lainnya, azan diserukan oleh muazin menggunakan pengeras suara dari atas menara masjid, mengingatkan umat Islam untuk melakukan salat atau ibadah wajib.

Ada sesuatu yang indah dari tradisi ini yang telah diwariskan selama berabad-abad lamanya dan diadopsi oleh umat Islam di seluruh dunia. Namun, penggunaan teknologi modern (dalam hal ini pengeras suara) sebagai alat menyerukan azan muncul dengan permasalahan baru, yaitu polusi suara. Suara menjadi tidak diinginkan jika menginterupsi aktivitas normal seperti tidur, percakapan, atau mengganggu dan mengurangi aktivitas orang lain atau komunitas di sekitar.

Hal ini lebih terlihat di kota-kota besar dengan gedung-gedung bertingkat seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung, di mana penempatan pengeras suara tertentu membuat azan terdengar buruk dengan gaung yang kacau. Muazin atau pelantang azan adalah masalah lain. Sementara beberapa masjid memiliki muazin yang baik dan berpengetahuan luas dengan suara-suara yang indah, sebagian besar lainnya tidak. Kadang-kadang mereka mengirim bocah laki-laki yang belum lancar melafal untuk menyerukan azan, membuat tradisi ini jauh dari menyenangkan.

Baca juga: Terbatasnya Ruang Salat Bagi Perempuan di Masjid dan Hak Istimewa Laki-laki

Sebagai masyarakat multikultural, Indonesia adalah rumah bagi ratusan budaya, tradisi, dan agama. Tetapi dengan populasi muslim mayoritas, Islam telah mengambil peran dominan dalam kehidupan budaya dan politik, dan kasus pengeras suara adalah bukti nyata. Inilah yang kita kenal sebagai hegemoni, di mana satu negara atau kelompok sosial dominan atas yang lain dan membentuk kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kementerian Agama telah mengeluarkan pedoman masyarakat pada tahun 1978 tentang penggunaan pengeras suara. Dengan jelas disebutkan bahwa masjid harus mengontrol volume suara dan tidak boleh mengganggu lingkungan sekitar sebelum, selama, dan setelah ibadah berlangsung. Sayangnya, peraturan ini belum banyak diedarkan oleh pengurus masjid, sehingga para imam setempat menganggap penggunaan pengeras suara untuk keperluan apa pun dan kapan pun mereka inginkan diperbolehkan.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara kebisingan dan kesehatan. Masalah yang terkait dengan kebisingan termasuk penyakit yang berhubungan dengan stres, tekanan darah tinggi, gangguan bicara, gangguan pendengaran, gangguan tidur, dan kehilangan produktivitas.

Kasus ekstrem di mana penggunaan pengeras suara untuk keperluan keagamaan yang berujung pada kekacauan terjadi pada 2016 lalu di Tanjung Balai, Sumatra Utara. Delapan candi Budha dibakar massa karena keluhan seorang perempuan tentang pengeras suara yang terlalu keras. Hal ini, ditambah dengan provokasi di media sosial, beralih dari pertengkaran komunitas kecil menjadi isu nasional, di negara tempat orang-orang dari semua agama telah hidup berdampingan selama ratusan tahun.

Baca juga: Hanya Sepetak Ruang untuk Perempuan di Rumah Tuhan

Sudah saatnya Kementerian Agama dan Dewan Masjid Indonesia mengambil langkah serius dalam menanggulangi polusi suara dari masjid-masjid setempat. Salah satu caranya adalah dengan menyebarluaskan pedoman tahun 1978 tentang penggunaan pengeras suara tadi kepada para imam setempat.

Kita tidak dapat berbicara tentang pembangunan berkelanjutan jika kita tidak dapat bertindak berdasarkan elemen terpenting dari hidup sehat, dan itu adalah polusi suara yang dengan sengaja ditimbulkan.

Iman Putra Fattah adalah seorang teknolog musik | Humanis | Penyuka fotografi| Sound Artist, seseorang yang bercerita dengan suara. Dirinya bisa ditemui di www.imanfattah.com.